Senin, 21 Desember 2015

Review Novel Goodbye Happiness Karya Arini Putri

Penulis: Arini Putri
Tebal: 320 halaman
Terbit: Oktober 2012 (cetakan pertama)
           2013 (cetakan kelima)
Penerbit: GagasMedia
Harga: Rp. 45.000
                                                                     ***
Kau dan aku tidak ditakdirkan untuk berada dalam satu kisah yang indah. Percaya atau tidak, begitulah kenyataannya. Jangan menyangkalnya karena akan sia-sia. Sama seperti berjalan di atas pecahan kaca, setiap langkah kita sesungguhnya hanya akan menuai luka.

Kau dan aku seperti tengah mencoba untuk membirukan senja yang selalu merah. Kita sama-sama berusaha, tetapi tidak bisa mengubah apa-apa. Senja tetap berwarna merah dan hatiku masih saja berkata tidak. Maka, berhenti dan renungkanlah ini semua sejenak. Tidak ada gunanya memaksa. Ini hanya akan membuatmu tersiksa dan menderita.

Lantas, kenapa kita tidak menyerah saja?
Bukankah sejak awal semuanya sudah jelas?
Akhir bahagia itu bukan milik kita.
                                                                      ***
Krystal dan Skandar telah lama menjadi teman sejak mereka duduk di bangku sekolah. Seperti cerita dongeng yang Skandar sukai, Skan mengibaratkan Krystal sebagai Tinkerbell dan Skan sebagai Peter Pan. Krystal pun menyimpan perasaan pada Skan, namun Skan tidak menyadarinya. Suatu kejadian kemudian membuat Skan pindah ke rumah sahabatnya, Krystal, yang sering dipanggil oleh Skan 'Tink'.

Saat Krystal diterima di salah satu kampus yang memiliki fakultas teater di Korea, Skan pun mencoba untuk mendapatkan kampus di Korea agar bisa dekat dengan Krystal. Namun, Krystal bingung apakah afeksi yang diberikan oleh Skan hanya sebatas teman atau lebih. Sesudah mereka sampai di Korea, Krystal bertemu dengan seorang aktor yang sedang naik daun, Park Seungho. Apakah pertemuan Krystal dan Park Seungho akan mengubah kondisi antara Krystal dan Skan? Lalu, apakah Krystal dan Skan tidak ingin tumbuh dewasa, seperti cerita Peterpan yang semestinya?

                                                                       ***
Awalnya, saya meminjam buku ini, karena judulnya yang menarik perhatian saya, sekaligus saya belum pernah membaca karangan Kak Arini sebelumnya, sehingga buku ini menjadi ajang penentu apakah saya akan membaca karangan Kak Arini lagi atau tidak. Dan jawabannya adalah YA, karena Kak Arini merupakan salah satu penulis GagasMedia yang berhasil membawa emosi saya naik turun baca buku ini. Terutama kesedihannya, sangatlah terasa.

Ini adalah buku terbitan GagasMedia tercepat yang pernah saya baca. Awalannya saya pikir bahwa buku ini bercerita tentang orang Korea, latarnya Korea, dll. sehingga saya cukup malas membacanya. Lalu, setelah mengetahui bahwa ini bercerita tentang orang Indonesia di Korea, saya akhirnya tertarik untuk membaca buku ini.

Apalagi mengenai orang Indonesia yang ingin pergi ke luar negeri untuk meningkatkan talentanya, pasti kalau di dunia nyata dia akan membanggakan tanah air jika berhasil di negeri ginseng tersebut. Buku ini juga bercerita mengenai fotografi yang merupakan hobi Skan, karena melalui hobi tersebut Skan masih bisa mengingat Krystal.

Beralaskan cerita dongeng "Peter Pan" dengan segala angan-angan karakter setiap peran, kita dibawa ke masa lampau, sejak Krsystal SMA sampai dia menjadi aktris bersama dengan "sahabatnya".Di sini, kita dapat melihat bahwa semakin kedua tokoh yang berasal dari Indonesia semakin lama menetap di Korea, mereka semakin dewasa secara psikologis, mulai dari cara berpikir masing-masing, hingga kelakukan mereka, menunjukkan bahwa mereka menjadi dewasa, perlahan demi perlahan.

Ceritanya mungkin memang selalu dikaitkan dengan cerita Peter Pan, namun ini adalah cerita dengan akhiran yang bittersweet jadi tidak terlalu merasa kehilangan yang berat sekali. Apalagi dengan cerita yang menurut saya cukup dipaksakan, karena kenapa Krystal bisa mencintai orang di akhir cerita tersebut? Menurut saya, terlalu tiba-tiba.

Hanya satu saja yang menjadi saya sangat merasa annoyed and irritated at the same time, which are the wrongly written grammar in this book and I don't know why, but the mistakes keep repeating on and on and this book makes me think, whether the editor knows the basic of English grammar or not . Intinya, semoga di cetakan-cetakan selanjutnya grammar mistakes-nya bisa dikurangkan.

Selain itu, ada satu hal lagi yang bikin saya bingung, latarnya di Korea, adanya orang Indonesia, kok tiba-tiba kalau bagian kata-kata yang menyayat hati, jadi bahasa Inggris? Saya bingung. Tapi, saya sungguh suka dengan kata-kata mutiaranya, mungkin di cetakan selanjutnya lebih baik kata-kata mutiaranya menjadi bahasa Indonesia saja, biar pembaca tidak bingung mengapa ada banyak sekali bahasa Inggris, padahal mereka tinggalnya di Korea.

Jika saja tidak terlalu banyak grammar mistakes, aku akan memberi buku ini 4.5 stars out of 5 for this book

For now, let's keep it at 3.8 stars out of 5 for this book.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar